medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Greenpeace Indonesia Ungkap Hasil Investigasi Tambang di Kaltim dan Kalsel

Published in Nasional
Kamis, 31 Maret 2016 07:50
  • Email
Aktivis Greenpeace Indonesia melakukan investigasi di areal pertambangan di Kalimantan Selatan. {Gambar: Greenpeace Indonesia} Aktivis Greenpeace Indonesia melakukan investigasi di areal pertambangan di Kalimantan Selatan. {Gambar: Greenpeace Indonesia}

Medialingkungan.com – Greenpeace Indonesia melakukan investigasi untuk mengungkap aktivitas pertambangan batubara yang dilakukan Banpu, perusahan asal Thailand. Dalam laporan hasil investigasi itu, Greenpeace membeberkan temuannya dari dua lokasi, yakni di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Dari siaran pers yang diberikan kepada Medialingkungan.com (30/03), Greenpeace mengungkapkan, aktivitas pertambangan di lokasi tersebut berdampak buruk terhadap perubahan bentang alam, hancurnya lahan pertanian produktif, dan menyisakan lubang-lubang tambang raksasa.

Menurutnya, Banpu di Indonesia memiliki saham 65% pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM), yang listing (terdaftar) di Bursa Efek Indonesia. ITM mengontrol sejumlah perusahaan di Kalimantan, diantaranya PT Kitadin, PT Indominco Mandiri, dan PT Jorong Barutama Greston.

Saat ini Banpu sedang merencanakan ekspansi PLTU batubara besar-besaran di wilayah Asia Tenggara, dan hal ini tentu saja akan membuat Banpu menggali batubara lebih banyak lagi di Indonesia. Tahun ini perusahaan itu berusaha meningkatkan sumber pendanaan mereka melalui penawaran saham perdana/IPO di Bursa Efek Thailand yang telah didaftarkan di akhir tahun 2015 lalu.

“Salah satu studi kasus yang diamati oleh Greenpeace adalah masyarakat di Desa Kerta Buana yang terpapar dampak negatif akibat praktik tambang batubara oleh PT. Kitadin,” kata Bondan Andriyanu, Juru kampanye Batubara Greenpeace Indonesia.

Bondan menambahkan, saat ini, 50 persen dari seluruh lahan pertanian Desa Kerta Buana atau sekitar 796 hektar sudah berubah menjadi konsesi tambang, selain meninggalkan bekas lubang tambang, masyarakat juga mengeluhkan banjir dan kekeringan di wilayah mereka.

Leboh lanjut ia jelaskan bahwa jika pada musim hujan terjadi banjir, sebaliknya pada musim kemarau warga terpaksa tidak bisa menanam padi di sawahnya karena tidak ada lagi air di saluran irigasi. Air yang seharusnya mengairi irigasi, terjebak di lubang-lubang bekas tambang PT. Kitadin dan membentuk danau buatan.

Hal ini menyebabkan panen padi warga menjadi tidak menentu, dari yang awalnya bisa menanam dua kali setahun dengan hasil kurang lebih sepuluh ton sekarang hanya sekali setahun dengan hasil hanya empat ton.

Sementara itu, di tempat lain, PT. Indominco Mandiri berencana melakukan praktik tambang batubara dengan menimbun Sungai Santan, di Kalimantan Selatan. Dalam laporan investigasi itu, dikatakan bahwa sejak beroperasinya PT. Indominco Mandiri di daerah hulu sungai Santan, warga merasakan kualitas air sungai semakin menurun yang memberi dampak langsung bagi kehidupan masyarakat lokal.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa penurunan kualitas sungai ditandai dengan perubahan warna air sungai, diikuti juga dengan matinya ikan-ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan ekonomi masyarakat setempat.

Selain itu, penelusuran Greenpeace juga mengunkap bahwa masyarakat kerap merasakan gatal-gatal saat mandi menggunakan air Sungai Santan. Warga mulai berhenti mengonsumsi air dari Sungai Santan, terutama untuk keperluan minum dan memasak.

“Terlalu banyak kerugian yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, Banpu seharusnya tidak lagi melakukan ekspansi bisnis batubaranya di Indonesia. Pemerintah Indonesia seharusnya juga melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas untuk melindungi rakyatnya,” ujar Bondan.

Ia juga mengatakan, investor tersebut justru memberikan kerugian. “Ini salah satu contoh buruk hadirnya investasi asing yang merugikan bangsa kita, masih banyak lagi keterlibatan investor asing di industri batubara Indonesia yang justru merugikan kita,” tambah Bondan. {Fahrum Ahmad}

  1. Untuk melihat laporan selengkapnya, laporan dapat diunduh pada link di bawah: http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/desa-terkepung-tambang-batubara/
  2. Laporan Greenpeace terkait tambang batubara, Batubara Meracuni Air Kalimantan Selatan dapat dilihat disini: http://www.greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/645408/EXSUMM%20INDONESIA.pdf

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini