medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Hujan Ekstrim di Kashmir Renggut 17 Nyawa

Published in Internasional
Selasa, 31 Maret 2015 23:29

Medialingkungan.com – Hujan lebat disertai dengan longsor di wilayah Kashmir, India, pada Selasa (31/03). Intensitas hujan dikhawatirkan menimbulkan banjir bandang di bagian utara pegunungan negara tersebut.

Seperti yang diberitakan Reuters, sebanyak 15 orang tewas ketika longsor terjadi di desa Ledhan, sekitar 40 km dari ibukota Srinagar, terjadi sebelum fajar pada hari Senin.

Sementara itu,dua lainnya tewas dalam banjir bandang di wilayah lain dari Kashmir.

Beradsarkan keterangan polisi setempat dikatakan bahwa hujan ekstim ini sudah merenggut 17 jiwa secara keseluruhan.Aparat kepolisian dibatu tentara dan warga sekitar terus berupaya mencari korban yang masih hilang akibat tertimbun reruntuhan.

"Kami masih mencari satu orang lagi yang masih tertimbun," kata Fayaz Ahmad Lone, inspektur polisi setempat.

Ratusan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka ketika sungai utama Kashmir mulai meluap dan ramalan cuaca memprediksikan hujan lebat akan terjadi di daerah yang dilanda banjir tujuh bulan yang lalu itu.

Berdasarkan studi Badan Meteorologi Tropis Institut Indiadari data 50 tahun terakhirdikatakan bahwa India mengalami curah hujan lebih ekstrim akibat perubahan iklim global.Beberapa bulan terakhir merupakan bulan terbasah dala kurun waktu satu abad.

Selain itu, dalam beberapa pekan terakhirditemukan banyak kasus petani yang bunuh diri akibat frustasi. Hal ini disebabkan kerusakan tanaman pertanian, sehingg para petani ini gagal memanen padi-padinya. (Mirawati)

Praktisi Lingkungan Dunia Desak Keputusan Iklim PBB Pertimbangankan Krisis Imigrasi Global

Published in Internasional
Sabtu, 14 Maret 2015 13:54

Medialingkungan.com – Bulan lalu para pengamat dan praktisi bidang lingkungan di dunia beramai-ramai berkomentar mengenai muculnya video beruang kutub yang sangat memilukan, terengah-engah jalan di atas gunung es.

Menurut para aktor gerakan lingkungan ini, beruag kutub merupakan potret ukuran bahwa perubahan iklim saat ini berada pada posisi darurat. “Bukan hanya bagi beruang namun juga umat manusia,” ujarnya pada VOA.

“Perubahan iklim kemungkinan menyebabkan jutaan orang mengungsi. Perubahan iklim tidak hanya berdampak bagi beruang kutub tapi juga bagi hidup umat manusia karena bisa menyebabkan jutaan orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.”

Mereka juga menekankan, krisis imigrasi yang membayangi manusia akibat perubahan iklim harus dimasukkan dalam kesepakatan iklim dunia di Paris, Desember mendatang. Untuk itu, mereka mendesak para negosiator yang sedang merancang kesepakatan tersebut agar menyertakan ketentuan-ketentuan yang ditujukan untuk mencegah migrasi massal dengan membantu komunitas yang rentan terhadap resiko itu untuk beradaptasi dengan realitas iklim baru.

Sementara itu, penasihat khusus Direktur Perlindungan Internasional di Badan Pengungsi PBB (UNCHR), Jose Riera mengatakan, beruang kutub menjadi gambar yang paling mewakili perubahan iklim di bumi.

“Beruang kutub hidup di es laut. Dengan menghangatnya atmosfir bumi, habitat beruang kutub menurun. Mereka tidak bisa berburu di perairan yang terbuka, dan mereka sekarat, kadang-kadang tenggelam ketika mencoba mencari gumpalan es yang menghilang.”

UNHCR telah membantu 46,3 juta pengungsi, orang-orang yang tidak mempunyai negara, orang-orang yang kembali ke negara mereka, dan para pengungsi dalam negeri. Banyak dari mereka yang terkonsentrasi di wilayah yang terkena dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

Riera mengungkapkan, migrasi yang berkaitan dengan iklim dan pengungsian akan menimbulkan tantangan besar di masa yang akan datang. Para pejabat UNHCR juga menambahkan bahwa tidak banyak waktu lagi untuk mengatasi masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh jutaan imigran akibat perubahan iklim yang terpaksa membuat mereka pergi dari dari tempat tinggalnya.

“Kami berharap pihak-pihak yang berkepentingan akan mengakui bahwa perubahan iklim memang faktor penentu dalam mobilitas manusia dan kemungkinan besar akan meningkatkan populasi pengungsi bila tidak ada tindakan konkrit yang diambil," kata Riera.

"Pesan kedua yang penting adalah mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengatasi pengungsian dalam konteks perubahan iklim, termasuk melalui strategi adaptasi."

Pusat Pengawasan Pengungsian Internal (IDMC) yang berkantor di Geneva, Swiss, mencatat, jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana alam. “Trennya tidak kelihatan bagus,” seloroh Direktur IDMC, Alfredo Zamudio.

“Bukti-bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa sejak tahun 1970 sampai 2013, resiko terkena dampak pengungsian internal telah meningkat dua kali lipat," sampung Zamudio.

"Pada tahun 2013 hampir 22 juta orang mengungsi ke setidaknya 119 negara, hampir tiga kali lipat jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan di tahun yang sama."

Sejak 2008, ketika pusat pengawasan itu mulai memonitor pengungsian, 160 juta orang telah mengungsi di 161 negara. Resiko tertinggi adalah di Asia di mana negara-negara secara berkala terkena topan, banjir dan gempa bumi.

Para ilmuwan setuju pengungsian akan meningkat di beberapa dekade mendatang karena naiknya permukaan air laut dan pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa-peristiwa cuaca yang ekstrim. (Fahrum Ahmad)

WFP Beberkan 8 Fakta Hubungan Bencana Alam dan Kelaparan via Twitter

Published in Internasional
Kamis, 12 Maret 2015 21:30

Medialingkungan.com – World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia melakukan kampanye menggunakan media sosial, twitter, pada tanggal 9 Maret 2015 lalu. Organisasi yang didirikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1960 ini rupanya tak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan pesatnya pekembangan teknologi informasi saat ini. Dalam kampanyenya, WFP mengangkat tema ‘8 Facts On Disasters, Hunger and Nutrition’ atau 8 Fakta Pada Bencana, Kelaparan dan Gizi. Hal ini dilatar belakangi oleh risiko besar yang menimpa masyarakat akibat bencana alam, yang salah satunya penyebabnya adalah perubahan iklim.

Sesuai dengan temanya, kedelapan fakta yang ditulis ini antara lain, (1) Lebih dari 80 persen orang di dunia berada pada kondisi 'rawan' pangan dan orang-orang ini mayoritas tinggal di negara-negara yang memiliki potensi besar tejadi bencana alam dengan risiko kerusakan lingkungan yang parah. (2) Lebih dari 10 pesen populasi dunia (980 juta orang) berpenghasilan kurang dari US $ 1,25 atau Rp 16.468 (Kurs Rupiah hari ini: 1$ = Rp13.175) per hari untuk daerah pedesaan, di mana mereka sangat bergantung pada sektor pertanian dan menghadapi risiko bencana alam.

(3) Pada tahun 2050, kelaparan dan kekurangan gizi pada anak bisa meningkat hingga 20 persen akibat dari bencana terkait perubahan iklim. (4) Lebih dari 20 persen atas variasi risiko tersebut berada di negara-negara berkembang yang ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama kekeringan. (5) Studi dari Bangladesh menunjukkan peningkatan angka anak yang kurus dan kurang gizi setelah dilanda banjir, yang dikarenakan kurangnya asupan makanan, akibat sulitnya memberikan penanganan yang tepat pada makanan yang telah terkontaminasi.

(6) Di Filipina, selama dua dekade terakhir, angka kematian bayi meningkat 15 kali lipat dalam 24 bulan pasca peristiwa angin topan yang terjadi di wilayah tersebut, dan kebanyakan dari korban itu adalah anak-anak perempuan. (7) Kekeringan memiliki dampak yang besar pada keanekaragaman makanan, dan akan mengurangi konsumsi makanan secara keseluruhan Di Niger, tanpa memandang dari tempat kelahiran mereka, dan anak yang lahir selama musim kemarau 2x lebih rawan mengalami kekurangan gizi pada usia antara 1 dan 2 tahun.

Dan (8) Kelaparan tidak bisa dihilangkan dalam hidup kita tanpa membangun ketahanan masyarakat yang rentan terhadap meningkatnya risiko bencana dan perubahan iklim.

Kedelapan temuan ini merupakan informasi penting yang menyangkut hubungan antara bencana dan kelaparan, yang juga merupakan program prioritas utama WFP yang akan dipaparkan pada Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana (WCDRR) di Jepang, 14-18 Maret mendatang. (Fahrum Ahmad)

Akibat Kabut Asap, Terumbu Karang Terancam Mati

Published in Nasional
Jumat, 17 Oktober 2014 09:52

Medialingkungan.com – Sekilas, memang tak tampak pengaruh kabut asap yang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat, terhadap ekosistem bawah laut yang berada di wilayah itu.

Pengamat terumbu karang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Suparno, pada Rabu (15/10) mengatakan bahwa kabut asap tersebut menyebabkan masuknya cahaya matahari untuk aktivitas fotosintesis terumbu karang menjadi relatif rendah. Di samping itu, mangrove dan padang lamun maupun ekosistim pesisir lainnya akan terkena imbasnya.

"Kami masih ingat, akhir 2000 pernah terjadi kematian masal terumbu karang di perairan laut Sumbar, penyebabnya kabut asap yang menutupi sinar matahari masuk ke laut, sehingga memicu berkembangnya fitoplanton alga merah. Blooming fitoplankton tersebut menyebabkan kematian massal bagi terumbu karang," ujarnya.

Terumbu karang memiliki sensitifitas yang tinggi jika terjadi ketidakseimbangan dalan sebuah ekosistem. Untuk melakukan fotosintesis, zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang membutuhkan cahaya yang cukup untuk memproduksi makanan terumbu karang. Pasalnya, jika terumbu karang tidak disuplai makanan, maka tempat bergantung hidup ikan-ikan ini akan mengalami pemutihan (coral bleaching) hingga akhirnya mati.

Tak hanya itu, kematian terumbu karang juga dipengaruhi suhu dalam air. Untuk batas toleransi suhu terumbu karang berkisar sekitar 30-31 derajat Celcius.

Suparno menyebutkan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pertumbuhan terumbu karang itu kembali, sampai saat ini pertumbuhan kembalinya (recovery) baru diperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen, jika blooming terjadi lagi, kondisinya akan kembali nol.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa proses pertumbuhannya kembali bisa secara alamiah dan bantuan manusia, salah satu usaha untuk mempercepatnya adalah dengan metode transplantasi, tetapi itu hanya bisa dilakukan pada jenis dan spesies tertentu.

Menurutnya, jika kabut asap sampai hari ini masih berlangsung hingga tiga bulan kedepan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi.

Ia mengkhawatirkan pertumbuhan sekitar 10 ribuan transplantasi karang yang dilakukan di UKM Diving Proklamator UBH sejak 2013 yang tersebar di Pulau Sironjong Gadang Kawsan Mandeh, Taman Nirwana dan Pulau Pasumpahan Padang akan terganggu dan mati.

Terhadap bencana asap ini, Suparno sendiri sangat menyayangkan, semua orang hanya mempertimbangkan korelasi asap dengan kesehatan dan ekosistem daratan saja. Sedangkan upaya transplantasi 5000 karang yang berada di Pulau Sironjong Gadang, Kawasan Mandeh, yang dilaksanakan pemuda-pemuda dan masyarakat setempat yang sejauh ini mengalami pertumbuhan yang baik, tak mendapat respon yang baik. (MFA)

Si jago Merah Melahap Empat Rumah di Kawasan Gunung Sahari

Published in Nasional
Sabtu, 02 Agustus 2014 13:30

Medialingkungan.com – Pagi tadi, Sabtu (2/8/2014), Terjadi Kebakaran Kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Sebanyak empat rumah di Jl Kran RT 05/RW 08 Gunung Sahari Selatan hangus terbakar dalam waktu kurang dari satu jam saja.

Menurut petugas operator Sudin Damkar Jakarta Pusat, peristiwa ini terjadi pukul 08.55 WIB.

“Ada empat rumah yang terbakar, sekarang sudah padam dan sedang pendinginan," ujarnya.

Untuk mengatasi kebakaran tersebut, dikerahkan sebanyak 12 unit mobil pemadam. Saat ini petugas masih melakukan penelusuran mengenai penyebab kebakaran ini. 

"Lalu lintas di sekitar lokasi masih lancar, tidak terpengaruh dengan peristiwa ini. Kebetulan lokasi terletak agak menjorok ke dalam lingkungan," kata Sudin

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun terdapat kerugian besar pasca kejadian ini yang belum diketahui totalnya. (DN)

 

 

 

Gunung Slamet Kembali Menyemburkan Letusan Abu.

Published in Nasional
Sabtu, 19 Juli 2014 09:40

Medialingkungan.com – Kamis (17/7) hingga Jumat (18/7) Gunung Slamet kembali mengeluarkan letusan dahsyatnya. Akitvitas gunung tersebut terus meningkat dan sudah berstatus waspada.

Menurut Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet di Pos Gambuhan, Pemalang, Sudrajat bahwa aktivitas gunung yang terletak di perbatasan antara Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Brebes tersebut mulai naik pada Kamis (17/7) petang.

"Sejauh ini, dari pemantauan yang kami lakukan, mulai tengah malam hingga Jumat pagi telah terjadi 10 kali letusan abu. Hingga kini, letusan abu masih terjadi. Petugas pemantau masih terus memonitor aktivitas Gunung Slamet,"kata Sudrajat.

Sudrajat juga menjelaskan, sebelum ini, aktivitas Gunung Slamet juga mengalami peningkatan pada akhir Juni tepatnya pada 29 hingga 30 Juni lalu. Namun, setelah itu, aktivitasnya kembali menurun.

"Tetapi dalam beberapa hari terakhir muncul gempa tremor harmonik. Setelah adanya gempa tremor harmonik, akhirnya muncul letusan abu,"ungkapnya.

Tambahnya lagi, sejauh ini tim pemantau belum melihat adanya sinar api pijar yang muncul dari Gunung Slamet. Aktivitasnya baru sebatas menyemburkan abu dengan ketinggian maksimal 1.500 meter.

"Hingga Jumat malam (18/7), Letusan condong mengarah ke timur. Tetapi hingga kini belum ada laporan mengenai hujan abu yang turun di sekitar Gunung Slamet," ujar Sudrajat.

Dia menjelaskan, pihaknya juga telah mengukur suhu di Pancuran Tujuh, Baturraden, Banyumas. Dari pengukuran yang dilakukan, tidak terlalu ada perubahan signifikan suhunya. Karena rata-rata pada bulan Juni dan saat sekarang berkisar antara 51 hingga 52 derajat Celcius.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tenang, meski ada peningkatan aktivitas Gunung Slamet. Karena sampai sekarang, status Gunung Slamet tetap waspada. Dengan status waspada, PVMBG merekomendasikan larangan aktivitas pada radius 2 kilometer dari puncak,"jelasnya. (DN)

 

Sumber : Tribunews.com

 

Topan Rammasun Kini Bergerak Menuju Cina

Published in Internasional
Jumat, 18 Juli 2014 22:23

Medialingkungan.com – Awal pekan lalu, Topan Rammasun memporakporandakan Manila, Ibukota Filipina. Kini Rammasum terus bergerak menuju ke arah Cina. Stasiun Meteorologi Provinsi Hainan melansir bahwa topan akan sampai di Provinsi Hainan di selatan Cina atau di wilayah pesisir Provinsi Guangdong pada Jumat, (18/07/2014).

 

Menurut lansiran Xinhua, Rammasun yang bergerak dengan kecepatan angin hingga 120 kilometer per jam ini tengah bergerak dari wilayah barat laut. Dan diperkirakan akan mendarat di Hainan dan Guangdong dengan kecepatan maksimum 140 kilometer per jam pada sore hari.

 

Topan Rammasun atau yang dikenal dengan sebutan Glenda di Filipina, telah mempengaruhi hampir setengah juta warganya dengan 420 ribu orang dipaksa mengungsi. Topan terbesar tahun ini menghantam Manila hingga memasuki kategori tiga.

 

Rammasun yang dalam bahasa Thailand berarti Dewa Petir, bergerak melintasi Samudra Pasifik dengan kecepatan angin 250 kilometer per jam. (DN)

 

Sumber: Tempo.co

 

Gempa Bumi Terjadi di Kota Kelahiran Presiden SBY

Published in Nasional
Senin, 14 Juli 2014 17:50

Medialingkungan.com –Gempa bumi tak hanya mengguncang Yogyakarta, tapi juga menggoyang wilayah lain di bagian selatan Pulau Jawa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengemukakan gempa berkekuatan 5,6 skala Richter terjadi sekitar pukul 12.05 WIB di Pacitan, Jawa Timur. Gempa di kedalaman 10 kilometer di 104 kilometer Tenggara Pacitan, Jawa Timur, (14/07/2014).

Gempa yang terpusat di kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut terasa hingga di daerah sekitarnya.

Nazarus Sururi, 25 tahun, karyawan salah satu bank pelat merah di Kota Malang itu merasakan getaran yang cukup kuat, namun tidak sampai merusak bangunan. "Getarannya terasa sekitar 10 detik," ujarnya.

Guncangan gempa juga dirasakan hingga di Kabupaten Kediri. Florentina Agung, 35 tahun, merasakan getaran gempa sekitar 10 detik. "Tapi tidak begitu kuat," katanya. (DN)

Lagi, Gempa Dengan Kekuatan 5,6 Skala Ritcher Guncang Yogyakarta

Published in Nasional
Senin, 14 Juli 2014 16:03

Medialingkungan.com – Senin, (14/07/2014) pukul 12.05 WIB gempa berkekuatan 5,6 skala Richter terjadi di yogyakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta merilis, gempa tersebut berpusat 104 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur.

Menurut Kepala BMKG Yogyakarta Bambang Suryo Santoso, pusat gempa berasal dari Pacitan, namun terasa sampai wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, terutama yang berdekatan seperti di Gunungkidul.

BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Gempa disebabkan adanya benturan lempeng Indo Australia dan Eurasia. Bambang pun meminta warga tetap waspada.

Akibat gempa cukup kuat itu, sejumlah warga yang tengah beraktivitas di perkantoran pusat Kota Yogya tampak panik dan berhamburan keluar. Di kawasan Jalan Ipda Tut Harsono, Yogyakarta, sejumlah karyawan DPRD Kota Yogyakarta tampak panik, khususnya yang berada di lantai dua.

"Terasa sekali gempanya, badan seperti didorong," kata Esther, karyawan Sekretariat DPRD yang langsung lari keluar gedung.

Gempa tersebut tak sampai menimbulkan kerusakan pada bangunan. (DN)

Hutan yang Hilang di Indonesia Seluas Irlandia

Published in Nasional
Kamis, 03 Juli 2014 22:29

Medialingkungan.com –Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia melimpah ruah, baik darat (hutan) maupun laut. Bahkan salah satu tesis dari seorang peneliti menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan negara Atlantis yang hilang. Dalam mitosnya, Atlantis merupakan sebuah negara sangat kaya akan sumber daya alam, dan tertata rapi memebentang dalam bentuk kepulauan layaknya Nusantara.

Namun, kebenarannya masih belum tersimak. Indonesia justru memiliki reputasi buruk terkait pelestarian hutan. Para ilmuwan melansirdalam CBC news, Senin 30 Juni 2014, mengungkapkan bahwa kini negara kita sudah melampaui negara penyelenggara Piala Dunia 2014, Brasil, terkait penebangan liar hutan tropis.

Meski pencanangan program moratorium sebagai bentuk perlindungan satwa liar dan memerangi perubahan iklim telah diperdengungkan sejak 2011 silam, namun laju kerugian negara semakin mebumbung tinggi.

Nature Climate Change mempublis jurnal berisi penyebab kerugian yang diderita Indonesia. Isi jurnal tersebut menyatakan, kerugian tersebut disebabkan perubahan fungsi kawasan hutan menjadi kelapa sawit dan peternakan dalam kurun waktu 2000 hingga 2012 dengan total luasan 60.000 km. Atau dengan kata lain luas hutan yang berubah sama dengan luas negara Irlandia.

Dalam jurnal tersebut tertulis, 2012 lalu potensi kehilangan hutan di Indonesia kehilangan hutannya lebih tinggi dari di Brasil. Pada tahun tersebut, Indonesia saja sudah kehilangan 8.400 km persegi, dibandingkan 4.600 km persegi yang ada di Brasil. Jurnal Nature Climate Change mencatat bahwa saat ini Brasil tengah berupaya untuk mengurangi kerugiannya dari sektor hutandan usaha tersebut telah membuahkan hasil.

"Kita perlu meningkatkan penegakan hukum dan kontrol di daerah itu sendiri," kata Belinda Margono, penulis utama dari studi di Universitas Maryland, sekaligus orang yang bekerjar di kementerian kehutanan Indonesia.

Diketahui, hutan mempunyai dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia, karena pohon merupakan penyumbang oksigen terbesar.

"Hutan hujan adalah paru-paru bumi. Anda memiliki paru-paru untuk bernapas dan jika anda menyingkirkan paru-paru itu, maka bumi akan menderita," ujar Matthew Hansen, salah satu penulis di jurnal tersebut di Universitas Maryland.

Kehilangan 'paru-paru bumi' berdampak pada perubahan iklim yang semakin cepat dirasakan. Sebagai salah satu hutan hujan terbesar di dunia yang ada di Indonesia, negara lain bahkan lebih peduli dan prihatin akan kehilangan hutan di negara ini.

Sebuah negara di Skandinavia yaitu Norwegia berjanji akan memberi dana US$1 miliar untuk memperlambat hilangnya hutan tersebut. Hal ini merupakan bagian dari perjanjian pencegahan perubahan iklim di dunia.

"Kemitraan in merupakan insentif keuangan yang kuat," ucap Gunhild Oland Santos-Nedrelid, juru bicara kementerian lingkungan Norwegia.

Ia mengatakan hilangnya hutan Indonesia yang meningkat beberapa bulan ke depan, akan berdampak pada meningginya kekeringan dan kebakaran hutan.

Sejauh ini, Norwegia telah membayar hampir US$50 juta untuk Indonesia dari US$1 miliar yang dijanjikan. Dana tersebut ungkap Gunhild, untuk dijadikan pembentukan lembaga baru yang konsen terhadap pembalakan hutan.

"Indonesia akan mulai mendapatkan uang dalam jumlah besar, jika hanya monitoring itu dapat membuktikan perlambatan penebangan hutan secara ilegal," kata dia.

Norwegia memang dikenal dermawan akan pelestarian hutan tropis di dunia. Proyek serupa berupa US$1 miliiar diberikan kepada Brasil serta program serupa namun lebih kecil dananya untuk negara Guyana dan Tanzania.

Pohon dapat menyerap karbondioksida dari gas rumah kaca yang merupakan faktor utama dari pemanasan global. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penebangan hutan turut menyumbang 17 persen dari semua gas rumah kaca buatan manusia.

Pemberlakuan moratorium 2011 lalu, sampai saat belum memiliki efek yang bisa dirasakankan langsung. Kendati demikian ritme pemerintah dalam melindungi hutan dari deforestrasi masih cenderung melow.

"Tampaknya bahwa moratorium tidak memiliki efek yang diinginkan," tulis para ilmuwan di jurnal tersebut.

Melalui moratorium tersebut pemerintah bermaksud untuk memperlambat kerugian serta melindungi habitat orang utan, harimau sumatera, dan satwa liar lainnya. Namun, tulisan di jurnal Nature Climate Change mengungakapkan kekecewaan para peneliti terhadap ketidaksesuaian dengan dari tujuan pembentukannya. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini